Pasti bau dan membosankan, itulah hal yang pertama kali terlintas di pikiran saya saat ibu mendaftarkan saya di salah satu kegiatan Akademi Kompos, yaitu kelas pegiat bank sampah. Nyatanya Kak Andito dan kakak-kakak pegiat Akademi Kompos lainnya membuktikan bahwa anggapan itu salah besar. Hari itu saya memahami suatu hal penting bahwa sampah tak sekedar benda yang tak lagi berguna. Dengan pengetahuan dan alat yang tepat, sampah bahkan bisa menjadi sumber kehidupan.
Inilah yang oleh Rajendra Singh dalam Gerakan Sosial Baru disebut sebagai gerakan akar rumput (grassroots movement) yaitu gerakan yang tidak membutuhkan struktur organisasi formal, melainkan tumbuh dari kesamaan kepentingan dan identitas bersama. Akademi Kompos adalah contoh nyata dari gagasan itu, ia hadir bukan dari atas ke bawah, melainkan tumbuh dari keprihatinan bersama terhadap lingkungan yang makin terdegradasi. Dengan pendekatan yang membumi dan menyesuaikan diri dengan kondisi masyarakat sekitar, Akademi Kompos perlahan membangun kesadaran ekologis dari dalam diri setiap pesertanya. Ketika seseorang memahami bahwa setiap sampah yang ia buang adalah tanggung jawabnya, di situlah kesadaran lingkungan sejati mulai tumbuh dan kesadaran itulah yang kemudian menjadi fondasi bagi tindakan sosial nyata, mulai dari kebiasaan memilah sampah di rumah hingga keberanian menyuarakan hak atas lingkungan yang sehat di ruang publik.
Hingga hari ini, saat saya berkuliah di jurusan Ilmu Hukum, pelajaran dari kelas pegiat bank sampah itu masih terasa relevan. Perkataan Kak Andito dulu bahwa kita mesti bertanggung jawab atas setiap hal yang kita buang, ternyata bukan sekadar pesan soal sampah, melainkan soal bagaimana kita memilih untuk hidup. Akademi Kompos, dengan caranya yang sederhana dan hangat, telah menanamkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar ilmu mengompos yakni sebuah keyakinan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri, dan bahwa keindahan bumi bukan dongeng, tapi pilihan yang kita buat setiap harinya.